Pasien dalam pengawasan Corona dari keluarga kurang mampu juga disiapkan sembako selama isolasi. Syaratnya, menunjukkan surat sakit dari tim medis, serta KK dan KTP Kota Denpasar
DENPASAR, NusaBali
Pemkot Denpasar ambil kebijakan khusus bagi warga kota yang dinyatakan positif virus Corona. Mereka akan dibantu sebesar Rp 150.000 per hari selama perawatan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sedangkan bagi pasien dalam pengawasan Corona ber-KTP Kota Denpasar, keluarganya dibantu dalam bentuk sembako.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Denpasar, I Made Mertajaya, mengungkapkan saat ini pihaknya tengah melakukan kajian dan proses pembuatan SK untuk bantuan bagi keluarga pasien yang positif Corona maupun dalam status pengawasan ini. Namun, kata Mertajaya, besaran bantuan bagi keluarga pasien yang positif Corona kemungkinan besar Rp 150.000 per hari.
“Maksimal dapat bantuan Rp 2,1 juta, dengan asumsi dirawat dan diisolasi selama 14 hari,” ungkap Mertajaya saat dikonfirmasi NusaBali di Denpasar, Minggu (22/3). “Namun, jika perawatannya melebihi 14 hari, bisa terbantu dengan bantuan jaminan sosial,” lanjut Mertajaya.
Selain itu, kata Mertajaya, keluarga pasien dalam pengawasan Corona yang diisolasi di rumah sakiy juga disiapkan bantuan berupa sembako dari pemkot Denpasar. Sembako tersebut berupa beras, mie instan, daging/ikan kaleng, dan minyak goreng.
“Bantuan ini terutama bagi keluarga kurang mampu. Rincian besaran bantuan akan diperhitungkan sesuai kebutuhan keluarga mereka. Kalau sembako ini kan yang terpenting keluarganya makan dulu,” terang Mertajaya.
Menurut Mertajaya, tidak semua pasien positif Corona maupun dalam status pengawasan yang diberikan bantuan dari Pemkot Denpasar. Bantuan ini hanya diperuntukkan bagi pasien yang berdomisili di Denpasar, dibuktikan dengan Kartu Keluarga (KK) dan KTP. “Jadi, untuk dapat bantuan dari Pemkot Denpasar, syaratnya mereka dinyatakan sakit oleh tim medis, kemudian tunjukkan KK dan KTP Denpasar,” katanya.
Sementara itu, Walikota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra juga mengakui pemerintah setempat menyiapkan anggaran bagi warga Kota Denpasar yang dinyatakan positif terinfeksi virus Corona. Anggaran tersebut khusus diberikan korban Corona dari keluarga menengah ke bawah, untuk memenuhi kebutuhan keluarganya selama masa isolasi, yang besarannya disesuaian dengan Upah Minimum Kota (UMK) Denpasar.
"Keluarganya inilah yang kita akan tanggung kebutuhan pokoknya, paling tidak mereka dapat bantuan sesuai UMK, terutama ini untuk kebutuhan sehari-harinya. Rincian besar bantuan, ada di Dinas Sosial Denpasar," ungkap Rai Mantra di Denpasar, Jumat (20/3) lalu.
Menurut Rai Mantra, Pemkot Denpasar sudah menyediakan anggaran sebesar Rp 3,6 miliar untuk penanggulangan Covid-19 pada fase pertama. Anggaran tersebut digunakan khusus untuk kategori himbauan, sosialisasi, dan penanganan-penanganan lainnya yang berkaitan dengan Covid-19.
Sedangkan untuk penanggulangan fase kedua, jika wabah Covid-19 terus berlanjut, Pemkot Denpasar menyiapkan anggaran sebesar Rp 25 miliar. Bahkan, jika pandemi Covid-19 berlanjut terus, Pemkot Denpasar menyiapkan anggaran penanggulangan fase ketiga sebesar Rp 100 miliar.
"Kita berupaya pada fase pertama dulu. Jika berlanjut, itu ada tahapan-tahapan yang kita siapkan,” jelas Rai Mantra. “Syukurnya, sampai saat ini belum ada warga Kota Denpasar yang dinyatakan positif Corona. Tapi, kami sudah siapkan fase-fase penanggulangannya," lanjut putra Gubernur Bali periode 1978-1988, Prof Dr Ida Bagus Mantra ini.
Selain menyiapkan anggaren untuk fase-fase penanggulangan Covid-19, kata Rai Mantra, Pemkot Denpasar juga terus melakukan sosialsi dan penyemprotan desinfektan. Bukan cuma itu, Rai Mantra juga menghimbau warga yang tinggal di Kota Denpasar untuk tidak pulang kampung dulu selama masa siaga bencana Covid-10 ini.
Menurut Rai Mantra, pihaknya khawatir warga yang pulang ke kampungnya yang berada di zona penyebaran virus Corona, nanti menjadi carrier. "Jadi, kami imbau warga Denpasar jangan dulu pulang kampung selama masa siaga bencana. Sebab, kita kan tidak tahu seperti apa penyebaran Covid-19 ini,” pinta tokoh asal Desa Sumerta Kelod, Kecamatan Denpasar Timur yang sudah tiga periode menjabat Walikota Denpasar (2008-2010, 2010-2015, 2016-2021) ini. *mis